Orang tua itu bernama Abdullah

January 1, 2009 at 12:12 pm | In pengalaman | Leave a Comment

Yah, ini adalah lanjutan dari (ehem) curhatan saya pada posting sebelumnya, mengenai pendapat saya bahwa meremehkan orang (baik dari penampilan, karakter, dan sebagainya) atau bahkan membeda-bedakan teman karena hal tersebut, adalah suatu hal yang merugikan. Karena kita tidak tahu hal apa yang akan terjadi pada saat kita telah mengetahui hal yang sebenarnya atau pada saat berkenalan dengan orang-orang seperti itu.

Ini pun salah satu contoh kejadian yang tidak saya duga ketika mengikuti sebuah majelis (baca: pengajian) di daerah pinggir kota Surabaya. Saat itu hari minggu, saya mengikuti mejelis tersebut karena mendapat undangan dari seorang teman saya yang tidak lain adalah seorang aktifis kerohanian.

Saat itu saya datang terlambat karena lokasinya yang memang cukup jauh dari rumah saya (perbatasan Surabaya-Gresik) dan juga saya pun masih harus bertanya-tanya karena tidak tahu persis dimana lokasinya. Alhasil saya pun tidak kebagian tempat di barisan depan karena kebetulan pengajian itu penuh sekali karena penceramah yang didatangkan kebetulan seorang ustadz dari luar kota yang cukup terkenal.

Maka berjuanglah saya dengan segenap kemampuan untuk lirik kanan-kiri mencari “sisa” tempat yang bisa bikin pewe selama kegiatan tersebut. Dan tertujulah pandangan saya disudut belakang masjid itu. Saya duduk disebelah orang tua yang sedang asik menyimak ceramah ustadz itu. Dari tampangnya sekilas, dia tampak seperti penduduk sekitar karena penampilannya yang cenderung biasa saja, seperti orang-orang dikampung saya yang baru saja selesai melaksanakan solat. Tidak seperti hadirin-hadirin lain yang berpakaian rapi dan wangi bahkan hingga memakai jubah, orang tua disebelah saya ini hanya berpakaian sarung dan sebuah kemeja lengan panjang yang sudah tampak kusam. Qur’an yang dibawanya pun sudah kusut dan banyak sekali selotip-selotip pada covernya seakan dia tidak mampu lagi untuk membeli yang baru.

Di sela-sela sesi istirahat, saya sempatkan untuk berkenalan dengan bapak itu. Karena namanya yang cukup panjang, saya kesulitan menghafalnya ditambah lagi logat dan gaya bahasanya yang ternyata bukan seperti orang Surabaya. Barulah saya tahu kalau orang itu memiliki nama panggilan Abdullah, penduduk asli Sampit, Kalimantan. Sampit merupakan salah satu suku dayak yang masih bertahan dengan adat istiadatnya dan kepercayaan spiritual yang sangat kuat. Tapi sekarang dia tinggal di daerah Sidoarjo, memilih jalan hidup sebagai seorang santri di sebuah pondok pesantren. Dan aku baru tahu lagi, bahwa ternyata orang tua itu juga seorang mualaf yang baru seminggu ini memeluk agama Islam. Oh, pantas begitu..pikirku. Saat selesai menanyai tentang diriku, aku semakin penasaran dengan latar belakang orang ini. Karena kuamati pada saat ceramah tadi dia sesekali bergumam mengomentari materi ceramah ustadz tersebut dalam bahasa inggris. Aku pun cukup kagum dengan orang itu, karena walaupun baru seminggu memeluk agama Islam, tapi pengetahuannya sudah cukup luas, mampu memahami dan mengerti perkara-perkara yang furu’ (cabang) dalam agama ini, tidak sekedar masalah ushul (landasan) seperti aqidah atau manhaj yang merupakan hal terpenting dalam agama ini, apalagi mengingat beliau baru saja masuk islam. Maka terjawablah pertanyaanku ini ketika dia mulai bercerita mengenai dirinya. Beliau pada masa mudanya adalah seorang profesor sastra. Pendidikan hingga S-3 dia habiskan di Amerika Serikat, tepatnya di Harvard University, jurusan filsafat dan psikologi.

Wah, sungguh tak sepadan dengan apa yang aku lihat saat ini. Seorang profesor yang berdandan layaknya rakyat jelata, ditambah lagi tentang keilmuannya mengenai agama islam yang jauh sekali melebihi seorang muslim yang telah lama menaganut islam, mengingat dia baru seminggu menjadi seorang mualaf dan belum satu bulan tinggal di pondok pesantren. Maka sungguh.. kemuliaan seseorang itu tidak bisa dinilai dari apa yang kita lihat saja.

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.